POLIGAMI – PEMAHAMAN  HADIS YANG “KELIRU”

 

Bagi beberapa kalangan yang pro poligami ada semacam pemahaman bahwa poligami merupakan hokum asal, sementara monogamy lebih bersifat particular. Sementara oleh sebagian orang, poligami bahkan dianggap sebagai satu diantara ukuran keimanan seseorang. Istri yan g mengizinkan suaminya berpoligami adalah istri yang shalihah, semakin dekat dengan pintu surge, dan sebagainya.

Pemahaman semacam ini memang agak berlebihan. Karena seolah-olah seorang istri yang tidak merelakan suaminya berpoligami berarti lemah keimanannya, kurang salihah, dan tidak begitu dekat dengan pintu surge. Istri juga harus menerima dengan pasrah, bahkan lelaki berpoligami seakan dianjurkan karena mengikuti sunah Rasulullah. Padahal persoalan poligami ini bersifat kasuistik dan sangat kondisional. Karena yang perlu diingat adalah bahwa inti dan tujuan dari disyariatkannya poligami itu sendiri tidak lain kecuali pemecahan masalah, bukan sebaliknya sebagai pemicu masalah.

Tak Mau Dimadu =/= Tak Shalihah

Kisah permintaan Nabi kepada Ali bin Abi Thalib agar tidak berpoligami di samping Fatimah, adalah kisah yang seharusnya dapat membuka mata pihak-pihak yang selalu mengkaitkan bahwa untuk menunjukkan keimanannya, seorang istri harus rela dimadu.

Kurang apa Fatimah binti Muhammad dalam hal keimanan? Selain itu sikap Nabi sendiri yang jelas-jelas telah menyatakan kurang rela apabila Fatimah dimadu oleh Ali meskipun beliau tidak mengharamkan, tentu ada latar belakang dan pertimbangannya. Bila kita mau bertafakur sejenak, dan mengembalikan inti dari syariat poligami sebagai pilihan untuk pemecahan masalah dan bukan pemicu masalah, tentu kisah ini seharusnya dapat menjadi panduan bagi orang yang mau berfikir.

Istri Boleh Mengajukan Cerai

Sebuah hadis di kitab Shahih Bukhari mengkisahkan pengaduan istri Qais bin Tsabit kepada Nabi, bahwa dirinya ingin berpisah atau mengajukan talak atas suaminya. Pengajuan talak ini memang bukan karena persoalan kurang adil atau yang lainnya. Melainkan hanya karena ia kurang senang secara fisik dengan suaminya itu.

Tetapi bagaimana reaksi Nabi? Beliau akhirnya mengabulkan permintaannya dan menceraikannya dari suaminya. Kasus ini sangat terkenal dan menjadi catatan sejarah awal terjadinya khulu’ atau pengajuan cerai oleh istri dalam Islam.

Dalam hal ini dimana unsur “aniaya, tertekan, dsb” tidak ada pun, Nabi tidak mencela atau memberi penilaian yang negative sedikitpun terhadap istri Qais tersebut. Penyikapan Nabi ini senada dengan apa yang difirmankan oleh Allah dalam surat An-Nisaa’ ayat 130: “Dan apabila akhirnya keduanya bercerai ( dengan proses yang baik) maka karena kelapangan-NYA Allah pun akan memberikan masing-masing dari mereka ghina’ atau kebebasan dari keadaan yang menghimpit dan membutuhkan pertolongan. Dialah Allah yang maha lapang dan bijaksana”.

Sekali lagi perlu kita sadari bersama bahwa Islam adalah agama penuh rahmat. Tidak ada sedikitpun penindasan didalamnya. Semua yang diajarkan dan disyariatkan bertujuan untuk memberikan jalan keluar, serta membebaskan umat manusia dari ketertindasan dan ketersesatan.

Hindari Lajang, Bukan Anjuran Poligami

Dalam hadis Said bin Jubair yang diriwayatkan Bukhari dalam kitab Shahihnya dikisahkan dialog antara Ibnu ‘Abbas dan muridnya, Said bin Jubair. Karena melihat Said bin Jubair Nampak mengesampingkan urusan nikah dan cenderung menghabiskan waktunya untuk beribadah ritual makaIbnu ‘Abbas bertanya kepadanya: “Apakah kamu sudah menikah?”, Said menjawab, “Belum”. Lalu Ibnu ‘Abbas menasihati, “Menikahlah. Karena sesungguhnya orang terbaik dari umat ini juga mempunyai banyak istri ( maksudnya adalah Nabi)”.

Hadis ini sering dijadikan ukuran kebaikan keimanan seseorang dengan berpoligami. Pemahaman semacam ini sebenarnya kurang tepat dan dinilai sedikit dipaksakan. Sebab konteks hadis diatas sangatlah jelas. Nasehat Ibnu ‘Abbas tersebut lebih merupakan peringatan yang dipicu oleh kekhawatiran adanya pandangan bahwa untuk menjadi hamba yang saleh itu, salah satunya adalah dengan menjauhi urusan seks dan pernikahan.

Hal seperti ini sangat wajar dikhawatirkan oleh Ibnu ‘Abbas mengingatkan bahwa diantara beberapa rekan Sahabat-nya pada masa Nabi juga pernah ada yang beranggapan demikian. Mereka ada yang berjanji akan terus melakukan shalat malam tanpa tidur sedikitpun, ada juga yang berjanji akan terus berpuasa, ada pula yang berjanji tidak akan menikah selamanya, dengan anggapan masing-masing bahwa hal seperti itulah yang akan dapat meningkatkan ketakwaan mereka.

Nabi mendengar cerita itu dan bersabda, “Aku ada;ah orang yang paling bertakwa diantara kalian. Akan tetapi aku pun berpuasa dan berbuka, bershalat malam dan tidur, juga menikahi perempuan sebagai istri. Maka barangsiapa membenci sunahku pastilah dia bukan termasuk golonganku” (HR. Bukhari-Muslim).

Jadi, hadis Ibnu Abbas diatas sebenarnyatidak hadir dalam konteks poligami. Meski didalamnya terkandung makna yang membolehkan poligami yang tentunya harus dipahami dalam bingkai nilai-nilai moral dan keadilan sesuai semangat Al Quran sebagaimana telah kita kaji bersama-sama. Semoga kearifan serta kejernihan pikrdan hati senantiasa menyertai kita agar kita tidak terseret dalam ketergesa-gesaan berpolemik. Kita berharap fenomena yang menggelisahkan ini berakhir dengan penyikapan yang baik tanpa ketegangan berkepanjangan. Aamiin.

Noor: Edisi Khusus Pernikahan Islami 2007”

Categories: Article

Comments are closed.