PERKAWINAN ADAT SUNDA

Nara Sumber : Ibu Liza ( Sanggar Liza )

Siraman

Disebut upacara Ngebakan, yaitu memandikan calon pengantin. Biasanya dilaksanakan sehari sebelum akad nikah, sekaligus pengajian. Dalam adat Sunda, upacara ini berarti berakhirnya tugas orang tua secara fisik dalam membesarkan anak dan menjaga kehormatan anak. Bagi pengantin upacara ini merupakan ajang mohon doa restu dari orang tua dan pini sepuh, serta menyucikan jiwa raga calon pengantin agar cita-citanya tercapai dengan lancer dan selamat.

  • Ngecagkeun Aisan

Acara dimulai dengan calon pengantin wanita keluar dari kamar, secara simbolis digendong oleh ibu, sementara ayah berjalan di depan sambil membawa lilin

 

  • Ngaras

Permohonan izin calon mempelai, kemudian mencuci kaki kedua orang tua dan diteruskan sungkem

 

  • Pencampuran Air Siraman

Kedua orang tua menuangkan air siraman yang berasal dari tujuh sumber ke dalam bokor dan mengaduknya untuk acara siraman

 

  • Siraman

Diiringi music kecapi suling atau shalawat Nabi, calon mempelai dibimbing ibu perias menuju tempat siraman dengan menginjak empat helai kain. Siraman pengantin wanita dimulai dari ibu, ayah, disusul para sesepuh yang jumlahnya ganjil yaitu tujuh, sembilan, atau sebelas orang. Setelah itu bapak calon pengantin memberi air wudhu kepada calon pengantin menggunakan air setaman yang ada di dalam kendi.

 

  • Potong Rambut

Dilaksanakan oleh kedua orang tua sebagai lambing memperindah diri calon mempelai lahir dan bathin. Selanjutnya calon mempelai wanita menjalani acara ngeningan ( dikerik dan dirias )

  • Rebutan Parawanten

Sambil menunggu calon mempelai dirias para tamu menikmati acara rebutan parawanten, terdiri dari hahampangan dan beubeutian

 

  • Suapan Terakhir

Pemotongan tumpeng oleh kedua calon mempelai, dilanjutkan memberi suapan terakhir masing-masing sebanyak tiga kali

 

  • Tanam Rambut

Kedua orang tua menananm potongan rambut di tempat yang telah ditentukan

 

Ngeuyeuk Seureuh

Acara untuk lebih mengakrabkan calon pengantin sekaligus memberikan nasihat berharga. Acara ini lazimnya, yang dipimpin Nini Pangeuyeuk ( juru rias )

Diawali dengan seserahan peningset yang dibawa oleh tujuh orang gadis dari pihak calon pengantin pria. Peningset lebih dahulu diberikan secara simbolis dari ibu calon pengantin pria kepada ibu calon pengantin wanita. Prosesi dilanjutkan dengan Ngeuyeuk Seureuh, urutannya :

  • Diiringi lagu kidung oleh pangeuyeuk, pasangan calon pengantin disawer dengan beras sedikit demi sedikit. Hal ini mengandung makna agar kelak hidupnya sejahtera
  • Pasangan calon pengantin dikeprak dengan sapu lidi disertai nasihat senantiasa memupuk kasih saying dan giat bekerja keras. Selanjutnya membuka kain putih penutup pangeuyeuk, melambangkan rumah tangga yang dibina bersih dan tidak ternoda
  • Menggotong dua perangkat pakaian diatas kain pelekat, melambangkan kerjasama pasangan calon suami istri dalam mengelola rumah tangga
  • Calon mempelai pria membelah mayang jambe dan buah pinang. Mayang jambe melambangkan hati dan perasaan wanita yang halus. Buah pinang melambangkan suami istri saling mengasihi dan dapat menyesuaikan diri. Selanjutnya calon pengantin pria menumbuk alu kedalam lumping yang dipegang calon pengantin wanita
  • Membuat lungkun, yakni berupa dua lembar sirih bertangkai berhadapan., digulung menjadi satu memanjang lalu diikat benang. Hal serupa juga diikuti kedua orang tua dan seluruh tamu yang hadir. Ini adalah symbol bahwa jika rejeki berlebihan harus dibagikan kepada saudara dan kerabat yang memerlukan
  • Berebut uang setelah diberi aba-aba oleh pangeuyeuk. Kedua calon pengantin beserta tamu berebut uang yang berada di bawah tikar, sambil disawer. Melambangkan berlomba mencari rejeki dan disayang oleh keluarga
  • Diiringi kidung  berisi do’a kepada Tuhan, pangeuyeuk menabur beras sebagai symbol permohonan agar kedua calon mempelai hidup bahagia dan sejahtera
  • Membuang bekas ngeyeuk seureuh ke perempatan, dilakukan oleh kedua calon pengantin beserta para sesepuh. Hal ini simbol membuang yang buruk dan mengharap kebahagiaan dalam menempuh hidup baru

Akad Nikah

Pada hari peresmian pernikahan calon pengantin pria beserta para pengiring menuju kediaman calon pengantin wanita, disambut acara Mapag penganten yang dipimpin oleh Mang Lengser, yakni seorang penari lelaki tua. Diiringi music degung rombongan menuju pintu halaman.

Calon mempelai pria disambut oleh ibu calon mempelai wanita dengan mengalungkan rangkaian bunga. Selanjutnya upacara pernikahan sesuai agama pasangan pengantin dimulai, dilanjutkan sungkeman dan sawer

 

Sawer

Merupakan upacara memberi nasihat kepada pengantin, yang dilaksanakan setelah pernikahan secara agama. Acara ini dilakukan di luar rumah atau teras. Kedua orang tua menyawer pasangan pengantin diiringi kidung. Untuk menyawer digunakan bokor berisi uang receh, beras, irisan kunyit tipis, permen, dan tek-tek. Kedua pengantin duduk di kursi dinaungi paying. Seiring satu bait kidung dilantunkan, isi bokor ditaburkan. Hadirin yang menyaksikan boleh berebut memungut uang receh dan permen. Selanjutnya upacara sawer adalah sebagai berikut :

  • Meuleum Harupat dan meupeuskeun Kendi

Melambangkan nasihat kepada kedua mempelai agar senantiasa bersabar dalam berumah tangga. Pengantin pria memegang tujuh batang lidi ( harupat ), pengantin wanita membakar tujuh batang lidi dengan lilin sampai menyala. Setelah itu pengantin wanita memasukkan harupat ke air dalam kendi yang telah disiapkan hingga apinya padam. Pengantin pria lalu mematahkan lidi jadi dua dan dibuang jauh-jauh. Lalu kedua pengantin bersama-sama memecahkan kendi tersebut ( dibanting )

 

  • Nincak Endong

Simbol itikad baik dan tanggung jawab suami sebagai kepala rumah tangga, dan istri yang mengikuti bimbingan suami. Pengantin pria menginjak telur diatas cowet, sedangkan pengantin wanita membersihkan kaki pengantin pria dengan air kendi

 

  • Melepas

Sepasang merpati putih dilepaskan oleh kedua orang tua. Simbol bahwa kedua orang tua melepas tanggung jawab karena kedua mempelai sudah memulai hidup baru secara mandiri

 

  • Buka Pintu

Melambangkan petuah agar suami istri saling menghormati, menghargai, dan tidak pernah berhenti saling mengasihi. Acara ini berupa percakapan Tanya jawab berupa syair atau tembang antara pengantin pria yang berada diluar pintu, dengan pengantin wanita yang berada dalam rumah. Biasanya keduanya diwakili oleh ahlinya atau juru Mamaos

 

  • Huap Lingkung dan Huap Deudeuh

Simbol kasih sayang kedua orang tua, sama besar terhadap anak dan menantu. Pertama pasangan mempelai disuapi oleh ibu dan bapak pengantin wanita, selanjutnya oleh kedua orang tua mempelai pria. Setelah itu kedua pengantin saling menyuap satu piring berisi tujuh bulatan nasi kuning. Pengantin pria menyuap dengan tangan kanan, pengantin wanita dengan tangan kiri. Mereka saling menyuap melalui pundak ( seperti berangkulan ), masing-masing tiga kali suapan. Satu bulatan yang tersisa diperebutkan keduanya, kemudian dibagi berdua

 

  • Pa Betot-Betot Bekak Ayam ( Bakakak )

Makna bahwa rejeki yang mereka peroleh harus dinikmati bersama. Kedua pengantin duduk berhadap-hadapan. Masing-masing memegang paha ayam> Ketika pembawa acara memberi aba-aba, kedua pengantin serentak tarik-menarik bekakak ayam. Yang mendapat bagian lebih besar harus membaginya kepada pasangan, dengan cara digigit bersama

 

Sumber : Rahasia Fotografi Pernikahan Tradisional Indonesia

Categories: Article

Comments are closed.