Makna Dibalik Ritual Pernikahan

“Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu pasangan suami istri dan menjadikan kamu itu, anak-anak dan cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil  dan mengingkari nikmat Allah?” (AN-NAHL:72)

 

Pelaksanaan ritual pernikahan karena satu dan dua hal tak jarang mengabaikan nilai-nilai ibadah. Pemikiran-pemikiran bahwa sang pengantin akan menjadi pusat perhatian, bahwa acara pernikahan ini Insya Allah hanya dilakukan sekali seumur hidup, ataupun pemikiran untuk memberi kesan mendalam dengan memasukkan unsur adat, tentunya akan menghasilkan keputusan yang kurang bijak.

Agar pernikahan sejalan dengan ayat diatas, yaitu dapat menambah keimanan dan sekaligus untuk membuktikan rasa syukur atas nikmat Allah, berikut ini wawancara dengan Hj. Ningrum Maurice dari N&N Islamic Wedding Organizer, bisa dijadikan pertimbangan.

Ijab Qabul

Ningrum mengingatkan dalam ritual pernikahan ada dua peristiwa yang perlu diperhatikan dengan baik. Petama Ijab Qabul yang biasa kita kenal dengan acara akad nikah, dan kedua Walimatul Ursy yang lebih umum disebut resepsi pernikahan.

Pada kedua peristiwa ini kita harus selalu mengingat makna dari ritual yang akan dijalani. Ijab yang berarti penyerahan dan Qabul yang berarti penerimaan, misalnya. Ini adalah ritual yang paling penting dalam sebuah pernikahan. Sebab ritual ini merupakan simbolisasi dari penyerahan tanggung jawab dari orangtua pihak perempuan kepada suami, yaitu tanggung jawab baik secara jasmani, rohani dan spiritual ( Ijab ) dan penerimaan istri terhadap adanya penyerahan tanggung jawab tersebut.

Di balik Ijab Qabul ini terkandung makna yang sangat mendalam, yakni bentuk keseriusan seorang pria untuk melindungi istri dan keluarganya, menjaga, serta membinanya. “Ijab Qabul ini sebenarnya merupakan pintu masuk seorang anak manusia ke gerbang kedewasaan. Ada tanggung jawab yang harus dipahami kedua pasangan pengantin, karena kehidupan yang sebenarnya baru ditemui ada saat kita mengarungi bahtera Rumah Tangga,” ujar Ningrum.

Maka ada beberapa hal yang harus dicermati. Pertama, Ijab Qabul ini bila mungkin dilaksanakan di masjid terdekat. Kedua, sebelum acara dimulai sebaiknya dilakukan shalat sunnat berjamaah. Ketiga, pada saat akad nikah, pengantin perempuan tidak perlu duduk di depan meja akad, melainkan tetap di dalam ruangan lain atau di kamar bila akad nikah dilakukan dirumah. Keempat, setelah ijab qabul mempelai pengantin laki-laki didampingi orang tua dari kedua belah pihak pengantin mendatangi kamar pengantin perempuan untk penyerahan Mahar dan pemaangan Cincin Pernikahan. Kelima, setelah pembacaan do’a sebaiknya dilakukan sujud syukur, sebelum ritual sungkem pada orang tua dan sesepuh.

Untuk membuat suasana semakin khidmatsehingga kita semua ingat bahwa ritual ini adalah semata-mata untuk mendapat ridho Allah SWT, sehingga kedua pasangan dapat menerima amanah pernikahan ini dengan baik, sangat dianjurkan diantara waktu kosong diselingi dengan lantunan musik nasyid.

Ritual inti dalam pernikahan ini sebaiknya dilakukan dengan khidmat, tidak dalam kondisi terburu-buru, karena itu dalam perencanaan blocking waktu maupun petugas yang terlibat, harus benar-benar baik. “Satu hal yang juga perlu diingat, khususnya bagi pengantin dan hadirin perempuan, meskipun ngin tampil istimewa, tetapi usahakanlah untuk tetap berbusana sopan, sehingga tidak menimbulkan kontradiksi dengan suasana khidmat yang diharapkan.”

Walimatul Ursy

Peristiwa kedua adalah resepsi pernikahan atau walimatul ursy. Ritual ini hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Diadakan semata-mata sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Berupa berlangsungnya akad nikah. Karena itu melaksanakan walimah /resepsi maupun menghadirinya, harus didasari kepentingan hanya untuk mencari ridho Allah SWT. Ikhlas semata mengharap ridha-Nya, insya Allah akan mengantar kedua mempelai meraih keberkahan dalam meniti kehidupan selanjutnya.

Hal yang harus dicermati dalam ritual ini menurut Ningrum antara lain keinginan memberi sentuhan adat pada acara walimah/resepsi ini. Tentu saja hal ini sah-sah saja asal tidak ada hal-hal yang bertentangan dengan kaidah-kaidah Islam. “Paling tidak kita siasati dengan lebih bijak. Misalnya dalam ritual injak telur, harus disiasati dengan menginjak yang lain agar tidak mempertontonkan sesuatu yang sifatnya mubazir,” jelas Ningrum.

Demikian pula dengan hiburan. Berkaitan dengan adat ataupun hiburan yang bersifat modern, jangan sampai merusak nilai agama. Saat ini cukup banyak grup nasyid yang bisa dipilih untuk menghangatkan suasana. Hiburan nasyid ini sangat pantas dipilih karena bisa menggiring hati untuk menjadi lebih tenteram dan makin mendekatan diri kepada Allah.

Selain itu disamping pemberian tausyiah juga sangat baik bila dilakukan kegiatan do’a dan zikir bersama. “Untuk keperluan ini pada cinderamata bisa ditulisi do’a sehingga seluruh hadirin bisa ikut terlibat dalam membacanya. Atau sebagai aksen ruangan, bisa juga ditampilkan layar lebar yang memutar teks do’a bersama tersebut maupun kaligrafi berisi Asmaul Husna,” tambah Ningrum.

Untuk sajian makanan, relative tergantung kemampuan seseorang. Namun ada hal yang perlu diperhatikan selain urusan halal dan sehat. Yaitu, jangan sampai menyediakan makanan yang berlebih-lebihan, karena Allah SWT tidak suka pada para pemboros sebagaimana firman Allah dalam surat Al A’raaf:32. Tetapi juga, tidak menyiapkan makanan yang tidak sesuai dengan jumlah undangan yang disebar. “Sebab menurut sunnah Rasul, tamu harus dihormati dan diperlakukan dengan baik dan adil.” Tutur Ningrum yang merasa prihatin bila dalam satu resepsi pernikahan, tamu yang datang terambat seringkali tidak kebagian hidangan, bahkan untuk sekedar minuman pun.

Mengingat tujuan walimah selain sebagai bentuk rasa syukur juga adalah untuk mengumumkan terjadinya sebuah akad nikah dan memohon do’a restu hadirin, jumlah undangan pun agar dipikirkan dengan baik. Jangan sampai seperti pasar malam, karena sulit mempertahankan suasana khidmat.

Selama acara berlangsung, tidak  merupakan keharusan bagi kedua mempelai untuk dipajang di pelaminan. “Akan lebih terasa hangat dan akrab bila pengantin yang justru mendatangi para tamu untuk bertegur sapa dan menyampaikan rasa terimakasihnya atas perhatian, kepedulian, kedatangan dan tentu saja do’a mereka.”

Sesungguhnya seluruh ritual pernikahan bila mengacu pada sunnah Rasul, akan terasa lebih indah dan bermakna. Tidak saja kepada kedua mempelai pengantin, tetapi kepada seluruh pihak yang terlibat. Sehingga kenangan indah ini insya Allah, dapat menjadi pegangan pasangan suami-istri ini dalam menghadapi bahterarumah tangga, yang kita semua tahu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Aamiin.

Agar diingat:

  • Do’a anak yatim itu lebih didengar Allah. Undanglah mereka dan karena mereka juga tamu, perlakukanlah juga dengan baik.
  • Ada hadis yang melarang kita makan sambil berdiri. Upayakanlah untuk mengadakan resepsi yang memberi kesempatan seluas-luasnya pada para undangan untuk bisa menikmati hidangan sambil duduk. Bila undangan cukup banyak sehingga ruangan tidak memungkinkan diberi kursi, pilihan lesehan juga cuckup bijak. Asal para undangan diberitahu sebelumnya bahwa resepsi akan dilakukan sambil lesehan.
  • Mereka yang tidak ikut masuk ke dalam ruangan resepsi. Para supir, tenaga keamanan, juru parker, jangan sampai tidak diperhitungkan. Siapkan area yang memungkinkan mereka ikut menikmati hidangan yang ada.
  • Bila terjadi perselisihan dalam rencana penyelenggaraan resepsi, semua pihak sebaiknya kembali pada niat atau nawaitu semula, jangan mengedepankan ego masing-masing, tetapi kedepankan syariahnya

Majalah Noor Edisi Khusus Pernikahan Islami 2007

Categories: Article

Comments are closed.